Senin, 28 Mei 2012


saya mengidolakan beberapa tokoh wanita masa kini, ada kesamaan diantara mereka, yaitu sukses dan lajang. 

menyoroti trend wanita karir dan pilihan hidup melajang. mereka sukses secara karir dan materi, tapi untuk pasangan hidup, ada yang bercerai dan ada yang masih lajang di usia 30. muncul pertanyaan Is it impossible for a girl to have a great career and a great relationship? 
menurut harlock (1980) tugas perkembangan dewasa awal (20-40) antara lain mulai bekerja, memilih pasangan, mulai membina keluarga, mengasuh anak, mengelola rumah tangga, mengambil tanggung jawab sebagai warga negara, dan mencari kelompok sosial yang menyenangkan.
Sosiolog perkotaan dari FISIP Universitas Indonesia, Dr. Linda Darmajanti Ibrahim, MT, yang dikutip dari femina.com , memaparkan di era ’70-an dan awal ’80-an wanita rata-rata menikah di usia belasan tahun. Memasuki pertengahan ’80-an, ’90-an, hingga sekarang, usia pernikahan terus bergeser mundur ke atas 20 tahun. Bahkan, di kota besar, pada strata masyarakat menengah ke atas, kisaran usia nikah bisa mencapai 25-30 tahun ke atas, tambahnya.

ingat kartini? ingat bagaimana beliau menuliskan mengenai sulitnya perempuan mengenyam pendidikan pada masa itu? di tahun 2012 ini, tidaklah mustahil bagi perempuan untuk meraih gelar lebih tinggi dari laki-laki. hal ini, menurut saya mungkin menjadi faktor yang membuat perempuan merasa superior dan merasa dapat hidup mandiri tanpa adanya keharusan membangun rumah tangga dan bergantung kepada laki-laki.
adapun yang saya pelajari di kelas adalah mengenai piramida maslow mengenai self actualization, atau aktualisasi diri. kesempatan menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, mudahnya kita mendapat beasiswa, atau mendapat jabatan tertentu di tempat bekerja. adalah hal-hal yang dapat memenuhi jenjang aktualisasi diri. namun jenjang love and belonging mungkin telah terlewat dan dirasa oleh kaum hawa cukup dengan mendapat cinta dari keluarga dan teman.

namun, menurut saya, seiring dengan perkembangan zaman dan regulasi informasi, terjadilah pergeseran-pergeseran nilai dalam masyarakat. zaman dahulu, usia 18 belum menikah adalah suatu hal yang tabu di masyarakat, nenek saya dari ibu dan ayah, keduanya menikah di umur 16 tahun. tapi kini, mungkin menikah sudah bergeser makna jadi pacaran. anak perempuan umur 12 tahun (SMP) jika belum pernah berpacaran di usia tersebut akan dicemooh oleh teman-temannya. 

permasalahan yang muncul adalah masalah persepsi perempuan karir dalam mencari pasangan. ada faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi perempuan mencari pasangan, menurut jurnal perkembangan faktor internal antara lain self concept, body image, motivasi, believe, value, dan pengalaman. sedangkan faktor eksternal adalah keluarga, teman, dukungan dan penerimaan sosial.

sedikit berpendapat mengenai dongeng urban, pada jaman dahulu prince charming adalah laki-laki yang tampan dan kaya raya yang bisa membuat hidup kita bahagia.  namun happily ever after zaman sekarang akan didapat ketika wanita karir yang sukses dapat mempersatukan egonya dengan lelaki yang juga sukses secara finansial dan karir dalam pernikahan (yang biasa disebut oleh infotainment ikatan suci) 
dongeng ini saya temukan di keluarga saya sendiri, ibu saya seorang dosen yang mengenyam gelar guru besar di universitas negeri di bandung, ayah saya lulusan strata satu. namun alhamdulillah, saya bersyukur tahun ini kedua orang tua saya akan merayakan ulang tahun pernikahan ke 22. bagaimana ayah saya tidak merasa rendah diri dengan status guru besar yang ibu saya, dan ibu saya juga tidak merasa menjadi lebih superior dengan pendidikannya, merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya.

sejujurnya muncul ketakutan saya untuk menjadi lajang, karena selalu ada pertanyaan besar yang muncul di benak saya
where do i see myself five years from now? 
menikah dan menimang bayi kecil atau menjadi headline di koran dengan tajuk successful single women dan memundurkan social clock menikah menjadi 27 tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar