saya
mengidolakan beberapa tokoh wanita masa kini, ada kesamaan diantara
mereka, yaitu sukses dan lajang.
menyoroti
trend wanita karir dan pilihan hidup melajang. mereka sukses secara karir dan
materi, tapi untuk pasangan hidup, ada yang bercerai dan ada yang masih lajang
di usia 30. muncul pertanyaan Is it impossible for a girl to have a
great career and a great relationship?
menurut
harlock (1980) tugas perkembangan dewasa awal (20-40) antara lain mulai
bekerja, memilih pasangan, mulai membina keluarga, mengasuh
anak, mengelola rumah tangga, mengambil tanggung jawab sebagai warga
negara, dan mencari kelompok sosial yang menyenangkan.
Sosiolog
perkotaan dari FISIP Universitas Indonesia, Dr. Linda Darmajanti Ibrahim,
MT, yang dikutip dari femina.com , memaparkan di era ’70-an dan awal
’80-an wanita rata-rata menikah di usia belasan tahun. Memasuki pertengahan ’80-an,
’90-an, hingga sekarang, usia pernikahan terus bergeser mundur ke atas 20
tahun. Bahkan, di kota besar, pada strata masyarakat menengah ke atas, kisaran
usia nikah bisa mencapai 25-30 tahun ke atas, tambahnya.
ingat
kartini? ingat bagaimana beliau menuliskan mengenai sulitnya perempuan
mengenyam pendidikan pada masa itu? di tahun 2012 ini, tidaklah mustahil bagi
perempuan untuk meraih gelar lebih tinggi dari laki-laki. hal ini, menurut saya
mungkin menjadi faktor yang membuat perempuan merasa superior dan merasa dapat
hidup mandiri tanpa adanya keharusan membangun rumah tangga dan bergantung
kepada laki-laki.
adapun
yang saya pelajari di kelas adalah mengenai piramida maslow mengenai self
actualization, atau aktualisasi diri. kesempatan menapaki jenjang
pendidikan yang lebih tinggi, mudahnya kita mendapat beasiswa, atau mendapat
jabatan tertentu di tempat bekerja. adalah hal-hal yang dapat memenuhi jenjang
aktualisasi diri. namun jenjang love and belonging mungkin
telah terlewat dan dirasa oleh kaum hawa cukup dengan mendapat cinta dari
keluarga dan teman.
namun,
menurut saya, seiring dengan perkembangan zaman dan regulasi informasi,
terjadilah pergeseran-pergeseran nilai dalam masyarakat. zaman dahulu, usia 18
belum menikah adalah suatu hal yang tabu di masyarakat, nenek saya dari ibu dan
ayah, keduanya menikah di umur 16 tahun. tapi kini, mungkin menikah sudah
bergeser makna jadi pacaran. anak perempuan umur 12 tahun (SMP) jika belum
pernah berpacaran di usia tersebut akan dicemooh oleh teman-temannya.
permasalahan
yang muncul adalah masalah persepsi perempuan karir dalam mencari pasangan. ada
faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi perempuan mencari pasangan,
menurut jurnal perkembangan faktor internal
antara lain self concept, body image, motivasi, believe, value,
dan pengalaman. sedangkan faktor eksternal adalah keluarga, teman, dukungan dan
penerimaan sosial.
sedikit
berpendapat mengenai dongeng urban, pada jaman dahulu prince charming adalah
laki-laki yang tampan dan kaya raya yang bisa membuat hidup kita bahagia.
namun happily ever after zaman sekarang akan didapat
ketika wanita karir yang sukses dapat mempersatukan egonya dengan lelaki yang
juga sukses secara finansial dan karir dalam pernikahan (yang biasa disebut
oleh infotainment ikatan suci)
dongeng
ini saya temukan di keluarga saya sendiri, ibu saya seorang dosen yang
mengenyam gelar guru besar di universitas negeri di bandung, ayah saya lulusan
strata satu. namun alhamdulillah, saya bersyukur tahun ini kedua orang tua saya
akan merayakan ulang tahun pernikahan ke 22. bagaimana ayah saya tidak merasa
rendah diri dengan status guru besar yang ibu saya, dan ibu saya juga tidak
merasa menjadi lebih superior dengan pendidikannya, merupakan kebanggaan
tersendiri bagi saya.
sejujurnya
muncul ketakutan saya untuk menjadi lajang, karena selalu ada pertanyaan besar
yang muncul di benak saya
where
do i see myself five years from now?
menikah
dan menimang bayi kecil atau menjadi headline di koran dengan tajuk successful
single women dan memundurkan social clock menikah menjadi 27 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar